Sabtu, 25 Mei 2013

JANGAN MENGINGINKAN MATI

Assalamualaikum, wr wb
Sahabatku,

“Janganlah salah seorang di antara kamu menginginkan kematian. Jika dia baik, maka diharapkan akan bertambah pula kebaikannya, dan jika sebaliknya, maka semoga ia diampuni", begitu sabda Nabi Muhammad Saw.

Hidup kita sekarang dan di akhirat nanti diilustrasikan dengan kisah simbolik yang menyatakan bahwa kini sedang ada yang berseru di tengah gelap gulita berkata: “Di hadapan kalian terserak aneka barang. Siapa yang mengambil banyak akan menyesal, yang mengambil sedikit juga menyesal, dan yang tidak mengambil sama sekalipun akan menyesal.”

  Di akhirat nanti, kegelapan tersingkap dan ternyata apa yang di hadapan kita itu adalah perhiasan yang sangat berharga. Yang mengambil banyak menyesal, karena ia masih sanggup mengambil lebih banyak namun tidak dilakukannya. Yang mengambil sedikit pun menyesal dan tentu lebih-lebih yang tidak mengambil sama sekali. Demikian semua menyesal.

Sungguh kelak manusia akan menyesal mengapa tidak bertasbih menyucikan Allah – walau sekali – di waktu luangnya. Demikian dinyatakan oleh sebuah riwayat yang dinisbahkan kepada Rasul Saw.

Seorang penyair pernah berkata: “Jika usia telah mencapai delapan puluhan, maka tak pelak lagi hidup akan membosankan”

Syair ini dikomentari oleh seorang kakek yang bungkuk. Katanya: “Memang usiaku telah lanjut, keperkasaan dan masa muda pun tak mungkin kembali, namun kini bila aku bergerak ku baca basmalah dan bila duduk ku baca hamdalah. Ini sungguh membahagiakan aku.” Bahkan sementara orang berkata: “Hidup baru dimulai di usia tujuh puluh”.

Demikian pandangan manusia yang optimis. Hidup memang sesuatu yang sangat berharga. Ia adalah modal manusia untuk meraih bekal perjalanan ke akhirat. Maut walaupun merupakan suatu keniscayaan, dan tidak seorang pun dapat luput darinya, serta dapat merupakan jembatan menuju kebahagiaan, namun: “Janganlah salah seorang di antara kamu menginginkan kematian. Jika dia baik, maka diharapkan – dengan penambahan usianya – akan bertambah pula kebaikannya, dan jika sebaliknya maka semoga ia diampuni. Begitu sabda Nabi Muhammad Saw, sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhâri dan Muslim melalui Abu Hurairah.

Rasul Saw. juga berpesan: “Janganlah menginginkan pertempuran dengan musuh. Mohonlah perlindungan Allah, tetapi jika kalian bertemu dengan mereka dalam peperangan, maka tabahlah, yakni janganlah lari” (HR. Bukhâri dan Muslim melalui Abu Hurairah).

Ini karena perang dapat mengakibatkan bencana, sedang Islam adalah agama damai, dan berupaya menyingkirkan bencana. Namun demikian – bila terpaksa – musuh harus dihadapi, dan siapa yang lari dari pertempuran untuk mempertahankan hidupnya, maka pada hakikatnya saat itu juga ia telah “mati”, dan siapa yang bersedia mati, mengorbankan hidupnya untuk kebenaran dan keadilan, maka dia telah melangkah menuju hidup yang abadi.

Memang Anda boleh berdoa agar diwafatkan sebagai muslim sebagaimana Nabi Yusuf berdoa (baca QS. Yûsuf [12]: 101), tetapi yang beliau maksud adalah kiranya Allah mewafatkan beliau sebagai muslim, jika maut datang menjemputnya. Sesaat pun dari usia yang digunakan secara tulus untuk beristighfar atau mengucapkan tasbih dan tahmid, mempunyai arti yang tidak sedikit di akhirat nanti.

Mendambakan kematian dapat merupakan salah satu bentuk keputusasaan, sedang tidaklah wajar seorang muslim berputus asa dari rahmat Allah, betapapun besar penderitaannya. Kalaupun terpaksa, akibat penderitaan yang tidak terpikul lagi, maka hendaklah dia berdoa: “Ya Allah hidupkan aku jika kehidupan ini baik untukku, dan matikanlah aku, jika kematian baik bagiku” (HR. Bukhâri, Muslim dan lain-lain melalui Anas bin Malik).

Karena itu Euthanasia sama sekali tidak dibenarkan dengan alasan apa pun. Hidup adalah anugerah Allah. Dia yang menganugerahkan dan Dia pula yang berhak mencabutnya. Jangankan membunuh orang lain, membunuh diri sendiri pun tidak dibenarkan. Allah berfirman dalam sebuah hadits Qudsi menyangkut yang membunuh diri. “Aku didahului oleh hamba-Ku (dalam mencabut nyawanya), Aku haramkan atasnya surga” (HR. Bukhâri melalui Jundub bin ‘Abdillâh).

Demikian wa Allâh a‘lam.

Sumber :
Disunting dari Buku "Menjemput Maut" karya M. Quraish Shihab, terbitan Lentera Hati, Jakarta, Cet. V, Februari 2007.
----------------------------------------------------------------------------------------
Mahabenar Allah, yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana - Semoga bermanfaat

Tidak ada komentar:

Total Tayangan Halaman

Sponsor